Jumat, 25 Maret 2011

Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar. Filipi 2:12-14

Suatu anugerah yang tidak ternilai kalau kita mendapatkan hak sebagai ahli waris kerajaan surga secara cuma-cuma. Dan yang lebih luar biasa lagi, Tuhan Yesus memberikan jaminan pasti kepada setiap orang pilihanNya bahwa kita tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan tidak ada suatu kuasa manapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah (Yoh.10:28-29). Pertanyaannya kemudian adalah apa yang menjadi tanggungjawab kita sebagai respon kita terhadap kasih Allah yang luar biasa itu?. Paulus memberikan perintah kepada jemaat di Filipi, “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”(Fil.2:12b). Apa yang dimaksud dengan perintah ini? Apakah perintah ini tidak bertentangan dengan ajaran Paulus yang lain tentang keselamatan adalah anugerah (Rom 3:28; Ef 2:8-9)?
Penyelidikan yang lebih teliti menunjukkan bahwa nasehat ini tidak bertentangan dengan doktrin anugerah. Pertama, kata kerja katergazomai (“kerjakanlah”) sebenarnya lebih bermakna “menyelesaikan” (Ef 6:13) atau “menyelesaikan sesuatu hingga sempurna”, bukan menghasilkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Ayat ini berarti “work out your salvation”, bukan “work for your salvation”. Dengan demikian Paulus seakan hendak berkata, “Jangan berhenti di tengah jalan; berjalanlah terus sampai karya keselamatan terwujud dengan lengkap di dalam kamu”. Di sini, 'keselamatan' itu mencakup daerah mulai saat kita percaya sampai saat kita masuk surga. Kedua, kata “mu” dalam frase “keselamatanmu” dalam bahasa Yunani berbentuk jamak. Pemakaian bentuk jamak ini menunjukkan bahwa Paulus tidak sedang membicarakan keselamatan pribadi-pribadi. Ia sedang membahas keselamatan secara komunal. Ia sebenarnya menasehatkan jemaat di Filipi sebagai sebuah komunitas untuk menunjukkan pola hidup tertentu yang membuktikan bahwa mereka memang sudah diselamatkan. Dalam konteks Filipi pasal 2, hal ini berhubungan dengan kasih sesama orang percaya (2:1-4, 14-15; 4:2).
Nasehat untuk mengerjakan keselamatan sebenarnya sama dengan nasehat untuk hidup sesuai dengan status yang sudah diselamatkan. Dalam istilah yang lebih sederhana, mengerjakan keselamatan sebenarnya sama dengan hidup sesuai firman Tuhan (ketaatan). Hal ini juga terlihat dari kalimat di ayat 12 “kamu senantiasa taat, karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu”. Dalam ayat ini, Paulus menggabungkan dua prinsip penting yaitu antara keselamatan dengan ketaatan.
Melalui Filipi 2:12-13, kita bisa melihat : 1)“bentuk ketaatan dalam mengerjakan keselamatan” (Fil.2:12) dan 2) “sumber kekuatan untuk taat dalam mengerjakan keselamatan” (Fil.2:13). Ada 3 macam ketaatan yang dituntut Allah dari kita yaitu : 1) Harus konsisten (terus menerus taat mengerjakan keselamatan); 2) Tidak dibatasi/dipengaruhi situasi apapun (harus berfokus pada Tuhan); 3) Didasari hormat pada Allah (ketaatan kita kepada Allah harus didasarkan pada rasa hormat terhadap kekudusan Allah). Jenis ketaatan yang dituntut Allah ini tampaknya sangat sulit untuk dilakukan, karena itu Paulus menjelaskan rahasia kita bisa melakukan itu. Rahasianya terletak pada diri Allah. Allah yang mengerjakan kekuatan dari dalam diri kita (energew). Kata energew muncul 20 kali dalam PB, 18 di antaranya dipakai oleh Paulus. Arti yang terkandung di dalam kata ini adalah “bekerja dengan penuh kekuatan” (Gal 2:8; 3:5; 5:6; Ef 2:2). Allah memampukan kita untuk mau (qelo) dan mampu (energew) menaati Dia. Natur kita yang tercemar oleh dosa cenderung tidak bisa konsisten dalam menaati Allah. Kita seringkali taat dalam situasi-situasi tertentu saja. Kita juga tidak jarang menaati Allah tapi dengan motivasi/dasar yang salah. Melalui intervensi Allah dalam diri kita, kita diberi kemauan dan kemampuan. Tugas kita adalah berserah pada pimpinan Allah.
Kita akan dimampukan untuk mengerjakan keselamatan kita dengan baik apabila : 1) Kehidupan kita menerapkan tabiat Kristus yang “dalam keadaan sebagai manusia, . . . telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (2:8); 2) Kehidupan kita berpegang pada Firman Tuhan (Fil.2:16) dan patuh/taat sepenuhnya kepada kehendak Allah, maka tindakan-tindakan kita akan serasi dengan “kerelaanNya” (kedaulatan-Nya).

Pertanyaan Sharring Life :
1. Dalam kehidupan keluarga, kita seringkali berada dalam situasi yang sulit untuk menaati Allah. Kita diperhadapkan pada dua pilihan: taat pada Allah tapi mengalami kesulitan dalam bisnis atau tidak taat tapi bisnis lancar. Apakah kita mau mengambil komitmen untuk menaati Allah bagaimanapun sulitnya itu?
2. Kita juga tidak jarang diperhadapkan antara waktu bagi Tuhan dan bagi pekerjaan. Apakah kita mau mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya?
3. Kita kadangkala harus memilih: mengikuti kata hati kita atau kehendak Allah dalam beberapa permasalahan yang harus kita putuskan. Apakah kita mau memilih Allah walaupun itu sulit?

“Allah akan bekerja dengan kuat dalam diri kita sehingga kita bisa untuk mau dan mampu menaati Dia”

1 komentar:

Daniel Richo mengatakan...

see this...

Poskan Komentar

 
Powered by Blogger